REFLEKSI AKHIR TAHUN ICMI
Kamis, 09 Januari 2012

REFLEKSI AKHIR TAHUN
IKATAN CENDEKIAWAN MUSLIM SE-INDONESIA
TENTANG KONDISI BERBANGSA DAN BERNEGARA
Mencermati kondisi dan situasi dalam rangka berbangsa dan bernegara setelah reformasi berjalan 13 tahun, maka ICMI dalam refleksi akhir tahun 2011 menyampaikan pokok-pokok pikiran sebagai bahan renungan kita bersama sebagai komponen bangsa yang memiliki tanggungjawab sosial sebagai berikut:
1. Setelah 13 tahun berjalan reformasi, bahu membahu seluruh komponen bangsa membangun bangsa dan negara, maka syukur alhamdulillah telah banyak kemajuan-kemajuan yang telah diraih oleh kita bersama, misalnya dalam kehidupan ekonomi kita telah masuk kelompok negara midle income countries (MICs). Jelang akhir tahun 2011 ini, ada 3 hal penting yang dalam 3 bulan terakhir membuat Indonesia optimis menghadapi tahun 2012. Pertama, Indonesia berada di puncak prestasi olah raga Asia Tenggara dengan menjadi juara umum setelah menunggu selama lebih 14 tahun. Indonesia berhasil merebut lebih dari sepertiga medali emas pada SEA Games ke-26 di Palembang pada bulan Nopember lalu. Kedua, masuknya Indonesia dalam radar investasi dunia setelah Fitch Rating Agencymenetapkan Indonesia sebagai negara yang naik peringkatnya dari level “non-investment grade” menjadi “investment grade” dengan level BBB- dengan “outlook stabil”.
Ketiga, Lebih istimewa lagi seolah sebagai kado akhir tahun, Dewan Perwakilan Rakyat akhirnya mengesahkan UU Pengadaan Tanah pada pertengahan Desember lalu setelah ditunggu bertahun-tahun (sejak UU Agraria 1960) dan selalu dijadikan dalih menjadi penyebab utama lambannya pembangunan infrastruktur di tanah air, seperti jalan raya, pelabuhan, bandara dan pembangkit listrik. UU baru ini dinilai lebih menjamin hak masyarakat pemilik lahan dengan memberikan keterbukaan informasi peruntukan sehingga masyarakat bisa mendapatkan “ganti-untung” dan bukannya sekedar “ganti rugi”
Meskipun terjadi hiruk pikuk dalam dunia perpolitikan di dalam negeri, sebagai negara berkembang yang belum dewasa (in the making) dalam proses demokrasi, menurut berbagai pengamat dalam dan luar negeri, Indonesia sudah berada pada jalur yang benar “on the right track”. Turbulensi yang terjadi dalam politik masih dianggapdalam batas yang wajar dan tidak akan berpengaruh signifikan terhadap stabilitas dan sustainabilitas kinerjaekonomi makro.
Peristiwa-peristiwa ini sangat penting untuk membangkitkan optimisme dikalangan masyarakat luas sekaligus menyadarkan pentingnya menghadapi tahun-tahun penuh tantangan (bumpy-road) di masa yang akan datang. Kebijakan ekonomi makro yang telah diputuskan pemerintah bersama DPR yang selama ini sering menimbulkan pro-kontra ternyata secara sistematis berhasil menarik kepercayaan dunia khususnya investor publik.
Sebagai negara yang telah diperhitungkan dunia sebagai salah satu negara dari G-20 yang akan tumbuh pesat dan memberikan pengaruh signifikan kepada perekonomian dunia, tentu saja kenaikan peringkat ini menjadi signal utama atas keberhasilan optimisme di maksud. Sebagian melirik Indonesia sebagai negara yang memiliki potensi pasar yang besar untuk tujuan peningkatan investasinya.Dalam bidang politik, kita telah sukses meletakkan dasar-dasar demokrasi yang kokoh. Misalnya, penyelenggaraan pemilihan umum presiden dan legislatif telah berjalan dengan sukses, sehingga kita termasuk tiga besar negara demokrasi di dunia setelah Amerika dan India, bahkan bangsa kita telah di puji oleh tokoh-tokoh dunia sebagai negara yang sukses menyelenggarakan pemilihan presiden dan legislatif.
2. Sungguh pun demikian, dalam bidang ekonomi masih banyak persoalan bangsa yang memerlukan perenungan kita bersama, pengangguran, kemiskinan masih menjadi persoalan bangsa yang memerlukan penanganan lebih optimal lagi, karena keberhasilan pembangunan ekonomi, bukan hanya di ukur dengan keberhasilan dalam tataran makro ekonomi, tetapi juga harus menyentuh dalam tataran mikro ekonomi, sehingga pertumbuhan ekonomi mampu menciptakan lapangan kerja dan semakin mengurangi jumlah kemiskinan, sehingga tingkat kesejahteraan rakyat semakin baik. Oleh karena itu, ICMI sangat mengapresiasi terhadap pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk terus mempercepat reformasi birokrasi dan pemberantasan korupsi sebagai upaya percepatan pembangunan untuk peningkatan kesejahteraan bangsa.
3. Dalam bidang politik, khusus perilaku elit politik dalam meraih jabatan politik lebih mengedepankan kepentingan untuk mengejar kekuasaan semata, dan cenderung mengabaikan etika dan moral, akhlakul karimah yang berlandaskan kepada nilai-nilai pancasila. Oleh karena itu, money politic, kebebasan tanpa batas yang mengarah kepada anarkis masih mewarnai kehidupan politiik bangsa kita saat ini.
4. Dalam bidang penegakan hukum, ICMI memandang cukup prihatin, karena belum begitu banyak perubahan yang berarti setelah 13 tahun reformasi. Misalnya, mafia hukum semakin merajalela, tebang pilih dalam penegakan hukum semakin dipertontonkan, lambat dalam menangani kasus-kasus besar yang menjadi perhatian masyarakat. Karena itu, penegakan hukum yang terjadi saat ini, yang benar bisa menjadi salah dan yang salah bisa menjadi benar, tergantung situasi dan kondisi, sehingga kondisi tersebut menyentuh hati nurani dan rasa keadilan yang paling subtansial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
5. Dalam bidang pendidikan, ICMI memandang pendidikan yang berjalan sampai saat ini belum mampu merubah mindset dan culture set peserta didik sehingga pendidikan masih cenderung melahirkan tukang-tukang pencari kerja bukan pencipta lapangan pekerjaan yang mandiri, kreatif, inovatif dan memiliki jiwa kewirausahaan yang tinggi. Karena itu, pendidikan hari ini cenderung melahirkan pengangguran intelektual dan dalam jangka pangjang akan berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
6. Dalam bidang sosial budaya, lemahnya tingkat kejujuran, sehingga tingkat korupsi masih cukup tinggi, feodal, hedonisme dan matrealisme merupakan kecenderungan yang muncul dalam kehidupan masyarakat kita saat ini.
7. Akan halnya, tentang kasus Papua, Mesuji dan Bima yang terjadi akhir-akhir ini, sebaiknya ditangani dengan dialog, arif dan bijaksana, tidak dengan kekerasan, sehingga tidak menimbulkan masalah baru.
MAJELIS PENGURUS PUSAT
IKATAN CENDEKIAWAN MUSLIM SE-INDONESIA
Ketua Presidium,
t.t.d.
Prof. Dr. Nanat Fatah Natsir
Sekretaris Jenderal,
t.t.d.
Dr. Ir. Muhammad Taufiq
