Home / Media / Siaran Pers / Icmi Bangsa Yang Maju Jadikan Kebudayaan Leluhur Sebagai Referensi

?ICMI: Bangsa yang Maju Jadikan Kebudayaan Leluhur sebagai Referensi


Posted on Sabut, 7 Okt 2017 12:53 WIB



<div style=

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: views/v_template_3.php

Line Number: 49

Backtrace:

File: /home/icmior/public_html/application/views/v_template_3.php
Line: 49
Function: _error_handler

File: /home/icmior/public_html/application/controllers/Pages.php
Line: 146
Function: view

File: /home/icmior/public_html/index.php
Line: 292
Function: require_once

" src="

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: views/v_template_3.php

Line Number: 49

Backtrace:

File: /home/icmior/public_html/application/views/v_template_3.php
Line: 49
Function: _error_handler

File: /home/icmior/public_html/application/controllers/Pages.php
Line: 146
Function: view

File: /home/icmior/public_html/index.php
Line: 292
Function: require_once

https://www.icmi.or.id/assets/img/content_image">

Jakarta (ICMI Media) - Ketua Umum ICMI Prof DR Jimly Asshiddiqie menilai, kesadaran yang muncul dari dalam diri sendiri bisa dibentuk dari beragam hal. Namun kini yang menjadi persoalan, Indonesia seperti tidak sadar terhadap sejarah kebudayaan bangsa sendiri.

Menurut Jimly, bangsa yang maju dan modern saat ini, tidak pernah melupakan tradisinya sendiri. Bahkan, menjadikan kebudayaan leluhurnya sebagai referensi untuk inovasi ilmiah.

"Cina menulis buku selalu mengutip nenek moyangnya. Itu tradisi yang mereka pertahankan. India selalu menjadikan sejarah leluhurnya sebagai referensi karya-karya bukunya ditambah mengutip sejarah Yunani. Nah kita? Justru lupa dan referensinya budaya luar," ujar Jimly, di Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (7/10), pada diskusi buku karyanya berjudu Konstitusi Kebudayaan dan Kebudayaan Konstitusi.

Jimly menyarankan, agar sudah mulai saat ini sudah mulai dicari dan dimunculkan pakar hukum tata negara adat. Jimly menuturkan, pentingnya pakar hukum tata negara adat sebagai profesi keilmuan yang baru di Indonesia sebab minimnya perhatian terhadap sumber konstitusi dari sejarah kebudayaan.

"Nenek moyang kita adalah orang-orang yang hebat. Kita punya sejarah. Harus sadar sejarah kalau ingin menjadi bangsa yg besar," ucap Jimly.

Oleh sebab itu, Jimly mengajak agar mengoptimalkan kampanye kebudayaan mulai sekarang. Masyarakat Indonesia, ungkap Jimly, harus membanggakan kebudayaan bangsa sendiri ke luar. 

"Ini harus jadi cita-cita, tujuan. Referensinya konstitusi sebagai pegangan tertinggi. Daripada kampanye politik, lebih bagus kampanye kebudayaan," ungkap Jimly. (HAS)


Tags :





Detail side

Media Terpopuler