Home / Media / Siaran Pers / Icmi Banyak Koruptor Alasan Sakit Hindari Jeratan Hukum

ICMI: Banyak Koruptor Alasan Sakit Hindari Jeratan Hukum


Posted on Kamis, 29 Sep 2017 06:23 WIB


ICMI: Banyak Koruptor Alasan Sakit Hindari Jeratan Hukum

Jakarta (ICMI Media) – Tersangka maupun terdakwa koruptor diingatkan agar jangan mencoba berbohong menggunakan dalih sakit. Hal itu amat berisiko terhadapnya jika setelah dibuktikan tak separah pengakuan si tersangka maupun terdakwa korupsi.

Menurut Ketua Koordinasi Hukum, Advokasi, HAM dan Lingkungan Hidup ICMI Ifdhal Kasim, ketika koruptor menolak panggilan pemeriksaan dengan alasan sakit, penyidik bisa mengirim Dokter untuk meminta second opinion untuk membuktikan sakit atau tidak.

“Sakit itu kan tidak permanen. Sakit kan ada jangka waktunya. Dua hari, satu Minggu, sepuluh hari, setelah itu harus memenuhi panggilan lagi,” ujar Ifdhal kepada ICMI Media, Kamis (28/9).

Ifdhal menilai, dengan begitu hanya menjadi sia-sia pengakuan sakit para tersangka maupun terdakwa koruptor guna melepaskan diri atau menghindar dari jeratan hukumnya.

“Ya itu tak ampuh. Hanya mengulur waktu saja. Koruptor menghindari pemanggilan dengan alasan sakit atau menunjukkan sakit dengan dia ke Dokter. Itu bukan berarti dia tidak lepas dari persoalan hukum,” tutur Ifdhal.

Ifdhal mengapresiasi upaya yang dilakukan lembaga antitasuah Indonesia yang memutuskan mengirim dokter guna memastikan kesehatan koruptor agar tidak beralasan untuk menghindari proses hukum.

“Jadi guna menghindari penahanan si koruptor, ada yang membuat alasan sakit. Kalau benar tidak sakit, itu langsung dibawa ke KPK. Koruptor dianggap tidak beritikad baik. Jadi artinya, koruptor tidak pernah diberikan lagi tidak bisa hadir kalau cari alasan,” kata Ifdhal.

Ifdhal menjelaskan, hanya pernah ada satu orang yang lolos dari sangkaan proses hukum korupsinya dan itu karena sakit permanen yang dideritanya sehingga tidak layak disidangkan yaitu mantan Presiden Soeharto.

“Soeharto itu menyatakan diri sakit permanen karena itu tidak bisa diperiksa atau dihadirkan ke persidangan,” ujar Ifdhal. (SYH/CR)


Tags :