Home / Media / Siaran Pers / Icmi Dorong Kaa Dukung Kemerdekaan Palestina Dengan Program Nyata

ICMI Dorong KAA Dukung Kemerdekaan Palestina Dengan Program Nyata


Posted on Kamis, 9 Apr 2015 08:05 WIB


ICMI Dorong KAA Dukung Kemerdekaan Palestina Dengan Program Nyata

"Selama ini, dukungan hanya sebatas moralitas semata. Padahal ada langkah konkret yang bisa dilakukan lebih dari itu," 

Jakarta - Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), menyatakan bahwa ICMI akan mendorong agar Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-60 yang akan diselenggarakan di Indonesia beberapa hari lagi harus bisa memberikan dukungan dalam wujud nyata. Demikian dikatakan Dewan Pakar ICMI  Zainulbahar Noor, dalam sebuah wawancara di Televisi Swasta pada Rabu (8/4) di Jakarta.

"Selama ini, dukungan hanya sebatas moralitas semata. Padahal ada langkah konkret yang bisa dilakukan lebih dari itu," ujar Zainulbahar yang juga mantan Duta Besar Indonesia untuk Yordania dan Palestina. 

Menurut Zainul, momentum KAA ini adalah kesempatan untuk mendeklarasikan dukungan atas kemerdekaan Palestina secara nyata. 

" Ada 2 hal yang bisa dibantu oleh Indonesia dan negara-negara KAA, yang pertama tentunya memberikan dukungan penuh atas Palestina untuk mencapai kemerdekaan secara penuh," tegas Zainulbahar.

Zainul melanjutkan, Palestina adalah salah satu negara paling tertinggal sejak deklarasi KAA pertama tahun 1955 dan satu-satunya negara di kawasan Asia Afrika yang masih terjajah. 

"Padahal Palestina adalah negara yang utuh dan memiliki pemerintahan serta birokrasi lengkap, namun masih terjajah dimana masanya sudah tak ada lagi penjajahan antar negara di dunia," tegas Zainulbahar.

Karena itu menurutnya, cara kedua yakni membantu mempersiapkan Palestina untuk memasuki atmosfir kemerdekaan sebagai negara yang berdaulat. 

"Yaitu dengan memberikan bantuan berupa pelatihan peningkatan kapabilitas pejabatnya dalam mengelola negara yang merdeka, ini penting bagi sebuah negara yang merdeka untuk mengisi kemerdekaannya," kata Zainulbahar.

Di masa pemerintahan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, Indonesia bersama negara-negara Asia Afrika sudah ikut berperan mempersiapkan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) bagi Pemerintahan Palestina yang merdeka.

"Kita terlibat dalam melatih SDM Palestina sebanyak 10 ribu pemuda Palestina dalam tata kelola Pemerintahan, dan Indonesia mengambil bagian yang paling besar," ungkap Zainul.

Sementara menyikapi bantuan dalam bentuk donasi dana, Zainul mengatakan bahwa sebetulnya bukan hal itu yang paling diharapkan oleh rakyat Palestina. 

"Jika kita pergi melihat sendiri ke Palestina, kehidupan ekonomi mereka sudah cukup baik," katanya.

Justru dukungan tegas atas kemerdekaan negara mereka, adalah hal yang paling diharapkan mereka muncul dari negara-negara lainnya. "Bantuan-bantuan dalam pengembangan SDM malah lebih diharapkan oleh mereka," tambahnya.

Karena itu, ICMI memberi masukan berupa usulan konkret dari Indonesia dalam KAA nanti agar negara-negara anggota KAA mengeluarkan statemen mendukung Palestina menjadi negara anggota tetap PBB. Menurut Zainul, inilah hal yang paling penting dalam deklarasi KAA di Bandung nanti.

"Kenyataannya, ketika voting diambil soal sikap KAA atas kemerdekaan Palestina ada beberapa negara yang enggan mendukung pengakuan atas kemerdekaan Palestina," ujar Zainul.

Bahkan, seharusnya peran Indonesia di ASEAN dalam mendukung kemerdekaan harus lebih intensif lagi. "Karena ada negara ASEAN yang hingga saat ini belum ikut mendukung, disinilah peran penting Indonesia di kawasan ASEAN," katanya.

Zainul menjelaskan, pada tahun 1955 Indonesia bersama Birma dan Pakistan melaksanakan Bogor Conferrence yang berlanjut pada KAA pertama. Itu adalah hal luar biasa, sebab saat itu belum ada gerakan dimana dunia bersama-sama memperjuangkan kemerdekaan sebuah negara. Zainul tidak berharap, KAA nanti hanya ajang romantisme sejarah semata.

"Karenanya, KAA ke-60 ini adalah saatnya deklarasi lebih konkret dimana harapan besar kemerdekaan Palestina ada pada Indonesia. Diperlukan langkah-langkah strategis yang kuat untuk dukungan nyata itu, sehingga kejadian di tahun 1955 dulu dapat terulang kembali di Bandung nanti," tegas Zainul. 

Sementara itu, Darmansyah Jumala, Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Luar Negeri Kemenlu menerangkan, Indonesia memiliki kredensial dalam kontribusinya untuk berbagi dalam ide dan gagasan bagi kemerdekaan Palestina. 

"Kita tahu bagaimana sebaiknya suatu negara memposisikan dirinya dalam 2 kekuatan besar. Karena itulah yang terjadi di tahun 1955 , dimana Indonesia bersama negara Asia Afrika berani menyatakan Indonesia dan negara-negara Asia Afrika bersikap netral dalam 2 blok besar saat itu," kata Darmansyah.

Sumber : Berita Satu, disarikan kembali oleh Tim ICMI Media.


Tags :