Home / Media / Siaran Pers / Icmi Nilai Tayangan Kekerasan Di Televisi Pengaruhi Perilaku Anakanak

?ICMI Nilai Tayangan Kekerasan di Televisi Pengaruhi Perilaku Anak-anak


Posted on Kamis, 28 Sep 2017 02:43 WIB



<div style=

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: views/v_template_3.php

Line Number: 49

Backtrace:

File: /home/icmior/public_html/application/views/v_template_3.php
Line: 49
Function: _error_handler

File: /home/icmior/public_html/application/controllers/Pages.php
Line: 146
Function: view

File: /home/icmior/public_html/index.php
Line: 292
Function: require_once

" src="

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: views/v_template_3.php

Line Number: 49

Backtrace:

File: /home/icmior/public_html/application/views/v_template_3.php
Line: 49
Function: _error_handler

File: /home/icmior/public_html/application/controllers/Pages.php
Line: 146
Function: view

File: /home/icmior/public_html/index.php
Line: 292
Function: require_once

https://www.icmi.or.id/assets/img/content_image">

Jakarta (ICMI Media) – ICMI menganggap anak-anak akan berperilaku melakukan kekerasan sebab terpengaruh dengan tayangan televisi yang ditontonnya. Bahkan, perilaku kekerasan itu dianggap wajar.

Menurut Ketua Koordinasi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ICMI DR Andi Yuliani Paris kepada ICMI Media, Selasa (26/9), anak-anak memiliki persentase waktu yang amat banyak guna menonton tayangan televisi.

“Memang saya sebenarnya sih melihat sekarang ini televisi-televisi di Indonesia itu banyak mempertontonkan hal-hal yang terkait dengan kekerasan,” kata Andi Yuliani.

Oleh sebab itu, Andi Yuliani berpendapat, media massa, terutama televisi, ikut menyumbang peran meningkatnya tingkat kekerasan di kalangan anak sekolah.

“Saya mendorong lembaga pengawas siaran betul-betul memberikan teguran ataupun bekerja menyeleksi tayangan atau film yang muncul di televisi. Kalimat-kalimat harus diseleksi dengan baik. Jadi tidak hanya menyalahan lingkup yang kecil saja, seperti sekolah, tapi yang besar juga,” Andi Yuliani menuturkan.

Namun, Andi Yuliani meminta pihak sekolah agar melaksanakan tahapan psikotes menyeleksi siswa baru. Andi Yuliani menungkapkan, tujuannya guna mengantisipasi tindakan kekerasan di kalangan pelajar.

“Sebaiknya sekolah-sekolah ketika menerima murid-murid, termasuk juga kasus di Akademi Kepolisian, bukan hanya sekadar mengetes aspek pengetahuan saja tetapi juga psikologi perlu dilihat. Jadi sekolah bisa waspada terhadap anak-anak yang berpotensi melakukan kekerasan,” ujar Andi Yuliani.

Sebelumnya terkuak kasus Hilarius Christian Event Raharjo yang merupakan siswa di SMA Budi Mulia, tewas dalam duel gladiator di Taman Palupuh, Kota Bogor, Jawa Barat, pada 29 Januari 2016. Kasus itu sempat dihentikan karena keluarga korban menolak otopsi namun akhirnya ibu Hilarius merasa tidak terima sehingga kasusnya diselidiki kembali oleh kepolisian. (SYH/CR)


Tags :





Detail side