Home / Media / Siaran Pers / Icmi Terbukanya Ruang Bebas Membuat Kekisruhan Di Indonesia

?ICMI: Terbukanya Ruang Bebas Membuat Kekisruhan di Indonesia


Posted on Sabut, 30 Sep 2017 07:15 WIB



<div style=

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: views/v_template_3.php

Line Number: 49

Backtrace:

File: /home/icmior/public_html/application/views/v_template_3.php
Line: 49
Function: _error_handler

File: /home/icmior/public_html/application/controllers/Pages.php
Line: 146
Function: view

File: /home/icmior/public_html/index.php
Line: 292
Function: require_once

" src="

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: views/v_template_3.php

Line Number: 49

Backtrace:

File: /home/icmior/public_html/application/views/v_template_3.php
Line: 49
Function: _error_handler

File: /home/icmior/public_html/application/controllers/Pages.php
Line: 146
Function: view

File: /home/icmior/public_html/index.php
Line: 292
Function: require_once

https://www.icmi.or.id/assets/img/content_image">

Jakarta (ICMI Media) – ICMI menganggap saat ini sedang muncul rasa khawatir dari sebagian masyarakat mengenai berulangnya sejarah seperti era 1960-an yang membenturkan antara Islam dan Pancasila hingga munculnya Komunisme.

Menurut Ketua Umum ICMI Prof DR Jimly Asshiddiqie, di Jakarta, Senin (25/9), kondisi tersebut membuat seolah Indonesia kini sedang dihadapkan dengan kondisi perang dalam negeri.

Apalagi ditambah, kata Jimly, semakin terbukanya ruang bebas yang susah sekali untuk mengontrolnya dalam hal teknologi, komunikasi dan media sosial.

“Sehingga semua orang bisa mengirim dan mendapatkan berita amat cepat. Lalu semua orang jadi Wartawan sendiri-sendiri, tidak perlu Pemred lagi. Bahkan, semua orang seperti jadi Pemred sendiri-sendiri. Punya akun sendiri-sendiri. Semua orang bisa menyembunyikan identitas dengan berbicara bebas,” ucap Jimly.

Jimly menuturkan, masa sekarang seolah sudah tidak ada lagi ruang pribadi dan tak ada lagi kerahasiaan. Jimly berpendapat, ruang-ruang yang ada kini telah semuanya menjadi milik publik karena tak ada lagi batasan bicara eksternal dan internal.

“Hal-hal yang tadinya gaib, sekarang jadi nyata. Semua ini menyebabkan terjadinya kekisruhan yang tidak kita sadari,” ujar Jimly. (SYH/CR)


Tags :





Detail side