Home / Media / Siaran Pers / Menyongsong Indonesia Menjadi Pemain Utama

Menyongsong Indonesia Menjadi Pemain Utama


Posted on Rabu, 18 Mar 2015 00:32 WIB


Menyongsong Indonesia Menjadi Pemain Utama

Bismillahirohmanirrohim

Assalamu’alaikum Wr.Wb

 

Indonesia adalah negara dengan penduduk terbesar ke-empat di dunia. Dengan jumlah penduduk yang sedemikian besar tersebut, kini keberadaan Indonesia semakin diperhitungkan dalam pentas global. Perkembangan proses demokratisasi di Indonesia juga telah banyak menjadi role model bagi negara-negara lain, karena keberhasilannya membangun demokrasi secara sehat, aman, damai, dan bermartabat di tengah-tengah keberagaman sosial, politik, agama, dan suku bangsa. Maka, tidak mengherankan bila Indonesia kini selalu dilibatkan dalam berbagai forum internasional, seperti G-20 dan forum-forum internasional lainnya.

 

Secara ekonomi, Indonesia juga  memiliki potensi yang sangat besar, yang akhirnya menjadi incaran banyak investor asing dari berbagai negara. Indonesia merupakan negara dengan ukuran PDB terbesar ke-18 di dunia dan nomor satu di kawasan Asia Tenggara. Indonesia adalah negara dengan wilayah terluas ke-16 di dunia. Dengan wilayah yang luas tersebut, Indonesia kaya dengan hutan tropis yang sangat potensial dalam mencegah perubahan iklim yang ekstrim. Itulah sebabnya, Indonesia selalu terlibat dan berada di garis depan dalam berbagai kegiatan atau forum internasional yang membahas isu mengenai global climate change. Indonesia adalah salah satu negara dengan sumber energi yang masih sangat besar, seperti minyak mentah, gas alam, panas bumi, batubara, dan lain-lain. Tidak hanya itu, Indonesia juga kaya dengan sumber daya alam lainnya seperti komoditas perkebunan, seperti kelapa sawit, kakao, karet, dan lain-lain. Tak kalah menariknya, Indonesia juga memiliki sumber daya alam di sektor pertambangan, seperti timah, emas, bijih besi, dan lain sebagainya.

 

Tentunya, kita sebagai bangsa bersyukur dengan potensi, kekuatan, dan capaian yang kita miliki dan kita raih tersebut, baik di bidang politik dan ekonomi. Namun demikian, sebagai bangsa yang besar dengan segala potensi dan kelebihannya, kita tentu harus memiliki harapan dan bercita-cita bahwa Indonesia bisa menjadi pemain utama di Indonesia. Indonesia harus tidak merasa cukup puas bila saat ini posisinya baru sebatas menjadi incaran para investor asing untuk berinvestasi di Indonesia. Secara politik internasional, Indonesia juga harus memainkan peran yang lebih strategis, lebih sentral, dan bisa mengambil posisi di depan dalam setiap forum internasional.

 

Secara ekonomi, kita saksikan bahwa China yang dengan segala kekuatan yang dimilikinya, terbukti tidak hanya tangguh di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Kita saksikan bahwa banyak perusahaan China yang telah memainkan peran strategis di luar negeri dan memiliki reputasi besar di kancah internasional. Malaysia dan Singapura, sekalipun ukuran ekonominya lebih kecil dibandingkan Indonesia, juga memiliki banyak perusahaan dengan reputasi internasional. Kegiatan perusahaan-perusahaan multinasional mereka, tidak hanya mampu membawa citra yang positif bagi negaranya di kancah internasional, juga mampu memberikan kontribusi yang tinggi bagi perekonomian negaranya dan kesejahteraan rakyatnya.

 

Cita-cita menjadi pemain utama di dunia, bukanlah angan-angan semu semata. Dengan kekuatan dan potensi yang kita miliki, baik sumber daya alam, sumber daya manusia yang semakin cerdas dan intelek, sistem politik yang demokratis, merupakan modal dasar yang baik untuk meraih harapan dan cita-cita tersebut. Namun demikian, tentunya kita juga harus sadar bahwa banyak yang perlu dibenahi di internal kita.

 

Oleh karena itulah, sebagai organisasi yang berbasis keintelektualitasan, ICMI mendorong agar proses reformasi di bidang politik, ekonomi, dan hukum terus dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan. ICMI melihat bahwa salah satu persoalan yang masih menjadi hambatan serius bagi perjalanan bangsa Indonesia ke depan adalah belum berjalannya secara baik reformasi di bidang hukum dan reformasi birokrasi. Kedua persoalan ini menjadi salah satu isu yang sering disorot oleh lembaga-lembaga internasional, karena menyebabkan ketidakefisienan ekonomi, menimbulkan korupsi, dan ketidakpastian hukum. Salah satu indikator lemahnya sistem hukum dan birokrasi kita adalah tercermin dari Global Competitiveness Index (GCI) 2010-2011 yang baru saja di keluarkan oleh World Economic Forum (WEF). Peringkat GCI 2010-2011 Indonesia, saat ini berada di peringkat 44 atau mengalami lompatan yang cukup signifikan dibandingkan posisi sebelumnya, peringkat 54. Namun, bila dilihat peringkat per segmen-nya, terlihat masalah institusi –termasuk di dalamnya sistem hukum dan birokrasi- yang merupakan basic requirement menduduki peringkat tidak terlalu bagus, yaitu peringkat 60.

  

Indonesia juga memiliki peringkat yang rendah dalam kesiapan teknologi (technological readiness). Berdasarkan peringkat GCI 2010-2011, peringkat technological readinessIndonesia berada di peringkat 62 dari 139 negara. Rendahnya peringkat kesiapan teknoligi tersebut mengkonfirmasikan bahwa proses industrialisasi di Indonesia memiliki kedalaman yang relatif rendah dan perlu ditingkatkan. Peringkat kesiapan teknologi kita tersebut juga mengkonfirmasi bahwa Indonesia relatif tertinggal kemampuannya di bidang pengolahan sumber-sumber daya alam yang kita miliki menjadi produk-produk bernilai tambah tinggi dan mampu menciptakan nilai tambah bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

 

Persoalan lain yang juga perlu didorong adalah masalah kesiapan infrastruktur. Kondisi infrastruktur kita relatif tertinggal dibandingkan negara-negara lain di Asia. Peringkat GCI 2010-2011 pilar Infrastruktur menduduki peringkat 82 dari 139 negara. Kondisi infrastruktur yang relatif tertinggal tersebut berpotensi menimbulkan biaya ekonomi lebih tinggi dan mengurangi hasrat investasi di Indonesia.

 

Indonesia juga memiliki sumber daya alam yang besar. Namun, neraca perdagangan kita di ASEAN ternyata defisit. Ekspor kita di ASEAN pada tahun 2009 mencapai US$24.623,9 juta, sementara impor kita dari negara-negara yang tergabung dalam ASEAN mencapai  US$27.742,4 juta yang berarti Indonesia mengalami defisit perdagangan dengan ASEAN sebesar US$3.118,50 juta. Bandingkan dengan Singapura yang tidak memiliki sumber daya alam sekaya Indonesia. Ekspor Singapura di kawasan ASEAN pada tahun 2009 mencapai US$81.646,5 juta sedangkan impornya sebesar US$59.047,6 yang berarti Singapura mengalami surplus perdagangan dengan ASEAN sebesar US$22.598,90.

 

Kondisi ini menunjukkan bahwa proses penciptaan nilai tambah dari potensi dan kekuatan yang dimiliki Indonesia melalui proses industrialisasi belum berjalan dengan baik. Industri yang terbangun di Indonesia kedalamannya masih relatif rendah. Perekonomian Indonesia masih bertumpu dapa sektor sumber daya alam, ekonomi ekstratif, dengan muatan teknologi dan inovasi yang masih relatif rendah.

 

Indonesia juga harus menjaga ketahanan pangan (food security) dan ketahanan energi (energy security). Oleh karenanya, pengendalian harga pangan dan pasokan pangan harus menjadi perhatian yang serius bagi pemerintah. Sebab, kurangnya pengendalian harga dan pemenuhan pangan bisa memberikan dampak ikutan (multiplier effects) yang tidak kecil terhadap perekonomian, khususnya inflasi dan kesejahteraan masyarakat. Sementara itu, untuk mendukung energy security, kebijakan energi nasional harus sebesar-besarnya diarahkan untuk mendukung kebutuhan bahan baku,bahan bakar, dan kebutuhan industri dan konsumen dalam negeri. Penguasaan yang sebesar-besarnya kekuatan energi dalam negeri oleh pelaku industri sektor energi di dalam negeri perlu menjadi prioritas dalam desain kebijakan energi nasional kita.

 

Di bidang sosial politik, keberagaman masyarakat harus dipertahankan untuk terus dikelola secara bijak dan arif. Keberagaman masyarakat  adalah modal yang penting bagi proses demokratisasi di Indonesia sekaligus pencitraan yang positif bagi Indonesia di kancah internasional jika kita mampu mengelola keberagaman tersebut. Alhamdulillah, hingga saat ini Indonesia terbukti mampu mengelola keberagaman tersebut.

 

Persoalan-persoalan di atas merupakan concern ICMI dan juga seluruh komponen bangsa untuk menyelesaikan. Melalui ICMI, kita ingin mendorong pemerintah konsisten dan terus menerus menjalankan berbagai agenda reformasi, secara lebih cepat dan tepat. ICMI juga mendorong  seluruh komponen negara untuk terlibat aktif dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa, sekaligus mendorong terwujudnya Indonesia sebagai pemain utama dalam kancah internasional. Diplomasi-diplomasi internasional harus digalakkan untuk mendorong percepatan peningkatan peran Indonesia dan kepentingan peningkatan ekonomi Indonesia.

 

Akhirnya, kita berharap bahwa cita-cita menjadi pemain utama yang diperhitungan dalam kancah internasional dapat segera terwujud. Dan yang terpenting, peran-peran strategis Indonesia tersebut sepenuhnya diarahkan bagi peningkatan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

 

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Ketua Presidium ICMI
Dr. Sugiharto, SE. MBA.


Tags :





Detail side

Media Terpopuler