Home / Media / Siaran Pers / Prolanis Siap Tekan Risiko Penyakit Kronis Di Masyarakat

Prolanis Siap Tekan Risiko Penyakit Kronis di Masyarakat


Posted on Sabut, 23 Sep 2017 13:49 WIB


Prolanis Siap Tekan Risiko Penyakit Kronis di Masyarakat

Banda Aceh (ICMI Media) – Direktur Utama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, Fachmi Idris menjelaskan, saat ini di Jerman telah ada program pengelolaan risiko penyakit kronis yaitu Disease Management Program (DMP). 

Menurut Fachmi, DMP telah berhasil  menurunkan tingkat hospitalisasi akibat stroke, serangan jantung, amputasi, kebutaan dan sebagainya. Salah satunya adalah karena dorongan untuk mengubah gaya hidup pasien dan kepatuhan terhadap pengobatan. 

Dampaknya, biaya pelayanan kesehatan turun hingga 5 persen per tahun atau sekitar Rp 3,9 triliun jika dirupiahkan. Kini, Indonesia sudah memiliki program serupa dengan DMP. 

“Saat ini kita punya program yang hampir mirip dengan DMP Jerman yang dikenal dengan layanan Program Pengelolaan Penyakit Kronis atau PROLANIS untuk peserta JKN-KIS,” kata Fachmi dalam acara The 8th Aceh Internal Medicine Symposia (AIMS) 2017, di Banda Aceh, Sabtu (16/09).

Melalui program edukasi, pemantauan kesehatan, aktivitas klub, home visit dan monitoring evaluasi oleh dokter spesialis, PROLANIS menjadi alternatif pengelolaan risiko penyakit kardiometabolik.

Jika dikelola secara optimal, Fachmi optimis PROLANIS dapat menekan pembiayaan pelayanan kesehatan akibat kardiometabolik. Efek jangka panjangnya, biaya penyakit kardiometabolik dapat dialokasikan untuk program promotif preventif lainnya agar kesehatan peserta JKN-KIS dapat terjaga.
 
Risiko penyakit kardiometabolik seperti diabetes mellitus, hipertensi, gagal ginjal dan sebagainya, menjadi ancaman untuk meningkatkan derajat kesehatan bangsa Indonesia. 

Ironisnya, kardiometabolik tidak hanya terjadi pada orang dewasa, melainkan juga ke anak-anak dan remaja akibat kurang olahraga dan pola makan tidak sehat yang menyebabkan obesitas.

“Total biaya INA CBG’s untuk penyakit kardiometabolik pada rentang waktu 2014-2016 mencapai Rp 36,3 triliun atau 28 persen dari total biaya pelayanan kesehatan rujukan. Peringkat biaya teratas diduduki oleh hipertensi dengan jumlah biaya Rp 12,1 triliun, disusul dengan diabetes mellitus sebesar Rp 9,2 triliun, penyakit jantung koroner sebesar Rp 7,9 triliun, dan gagal ginjal kronis sebesar Rp 6,8 triliun,” ucap Fachmi.

Fachmi mengungkapkan, dalam rentang waktu tiga tahun tersebut, obat kronis berbiaya besar didominasi oleh obat-obatan diabetes mellitus dan hipertensi. Jumlahnya mencapai Rp 1,95 triliun atau 78 persen dari total biaya obat kronis di luar paket kapitasi atau INA CBG’s. (SYH/CR)


Tags :