Apa Yang Dimaksud dengan Qada Qadar

Pengertian Qada Qadar

Sudah banyak ulama kontemporer yang mengemukakan pendapat terkait definisi qada qadar, tetapi masih saja menimbulkan salah persepsi di antara kaum muslimin. Sejatinya, qada dan qadar merupakan dua topik yang berbeda meskipun memiliki keterkaitan satu sama lain. Qada mengacu kepada apa-apa yang dilakukan oleh manusia atau menimpanya dan sifatnya spesifik, sementara qadar bercerita tentang potensi dengan lingkup universal.

Mengenal Lebih Dalam Tentang Qada Qadar

1. Qadar

Tahukah Anda bahwa qadar sebenarnya bercerita tentang potensi yang dimiliki oleh manusia sejak lahir? Sifatnya universal, tidak ada perbedaan antara satu orang dengan orang lainnya, baik kaya maupun miskin, dan bahkan terlepas di mana pun tempat tinggalnya.

Kita semua, manusia, pada dasarnya memiliki tiga potensi bawaan, yaitu naluri, kebutuhan jasmani, dan akal. Naluri umumnya tidak harus dipenuhi dan paling parah hanya menyebabkan kegelisahan. Ini bisa diklasifikasikan lagi menjadi tiga bagian, naluri berkasih sayang, keinginan untuk menuhankan sesuatu, serta mempertahankan diri.

Naluri berkasih sayang, misalnya, ketika Anda jatuh hati pada seseorang, tidak wajib bukan untuk mengungkapkannya dengan segera? Bahkan, jika perasaan itu terpendam selamanya, tidak pula mengakibatkan kepunahan.

Berbeda halnya dengan kebutuhan jasmani, di mana kecenderungannya haruslah dipenuhi atau, jika tidak, itu bisa berakibat fatal seperti kematian. Contohnya, ketika Anda lapar dan harus, maka sudah menjadi ketentuan alamiah untuk makan dan minum agar bisa terus menjalani kehidupan dengan optimal.

Baik naluri maupun kebutuhan jasmani, sebenarnya ini dimiliki pula oleh hewan, tetapi manusia, secara khusus dikaruniai dengan akal. Itulah yang menjadikannya berbeda karena bisa menimbang apakah sesuatu harus dipenuhi atau tidak, termasuk pula menentukan cara pemenuhannya.

2. Qada

Qada membahas tentang apa-apa yang menimpa manusia dan yang dilakukannya. Ini bersifat spesifik, beda subjek, maka beda pula ketentuannya. Misalnya, seseorang terlahir kaya, sementara di belahan bumi lainnya, ada pula yang terlahir miskin.

Miskin dan kaya, inilah kondisi awal ketika seseorang terlahir ke dunia. Namun, apakah mau bertahan dengan keadaan tersebut atau mengubahnya dengan memaksimalkan segala potensi bawaan, itu sifatnya pilihan. Beda pemikiran, beda pula hasilnya.

Qada qadar sesungguhnya berbicara tentang takdir. Meskipun segalanya telah ditulis di Lauh Mahfuz, tetapi penting untuk memahami topik ini agar memiliki landasan dalam menjalani kehidupan, menentukan antara yang harus dipikirkan dengan diabaikan saja.

Baca juga:

Tinggalkan komentar